Kajian Komunikasi Ritus Pau Ana Masyarakat Lamalera


(Desa nelayan Lamalera)


Pada dasarnya komunikasi bertalian erat dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Komunikasi sebagai ilmu telah terwujudnyata dalam setiap relasi sosial. Setiap membangun suatu interaksi sosial tentulah dibutuhkan komunikasi sebaga sarana yang menghubungkan manusia satu sama lain.


Baca juga: Lepo Lorun, Mahkota Tenun Pulau Bunga


Dalam perspektif Kristen, komunikasi berkaitan dengan kata communis yaitu persekutuan yang pada akhirnya mengarah kepada komunitas. Pandangan Kristen lebih menekankan pada ungkapan komunikasi sosial, yang merupakan unsur dasar untuk manusia dan masyarakat.[1] Franz-Josef Eilers mendefenisikan komunikasi sosial sebagai proses interaksi simbolis yang memungkinkan orang menciptakan kontak dengan tukar-menukar pengertian melalui tanda-tanda.[2]


Bertolak dari uraian di atas, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji realitas sosial masyarakat dari sudut pandang komunikasi. Adapun obyek sosial yang diulas dalam kehidupan bermasyarakat ialah kebudayaan. Kebudayaan memiliki salah satu wujud yakni ritus atau upacara adat sebagai suatu realitas sosial dari masyarakat. Oleh karena itu, salah satu ritus lokal yang diangkat pada tulisan ini ialah ritus Pau Ana yang berasal dari kebudayaan masyarakat Lamalera.


Mengenal Masyarakat Lamalera dan Ritus “Pau Ana”

Desa Lamalera di kenal luas sebagai suatu perkampungan nelayan yang memiliki ritual penangkapan ikan paus secara tradisional. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dan satu-satunya di manca negara. Setiap tahunnya ritual penangkapan mamalia terbesar ini berlangsung pada bulan Mei hingga bulan Oktober dalam suatu musim melaut yang disebut leva seturut bahasa setempat.


Secara geografis desa Lamalera terletak di pantai selatan Pulau Lembata (peta lama menyebutnya Pulau Lomblen), Kabupaten Lembata, Kecamatan Nagawutun, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam peta dunia, desa Lamalera berada di sekitar 23,5º Bujur Timur dan 8,30º Lintang Selatan.[3]


Kondisi alam desa Lamalera sangat kering kerontang, berbatu-batu (hampir 75 %). Pantainya pun berkondisi terjal, bertebing-tebing batu cadas. Hanya terdapat sisa kecil pantai landai berpasir yang dijadikan pusat landasan kegiatan turun naiknya perahu pada masa melaut. Kondisi yang demikian ini secara tidak langsung mendorong dan menempa mental masyarakat Lamalera menjadi nelayan yang tangguh, pemberani dan pantang menyerah pada nasib.[4]


(Bocah-bocah Lamalera)


Selain dikenal dengan ritus penangkapan ikan paus secara tradisional, masyarakat Lamalera juga memiliki banyak kekayaan budaya. Salah satu yang diangkat dalam tulisan ini ialah, ritus Pau Ana. Pau Ana merupakan upacara memberi makan anak gadis secara adat, dua atau tiga hari sebelum menikah dan sekaligus merupakan peristiwa atau upacara perpisahan antara si gadis dengan segenap anggota keluarganya, baik dari pihak ayah atau pihak ibu.[5]


Ritual ini merupakan acara perpisahan bagi si anak gadis karena akan berpisah dengan keluarga besar dari suku ayah juga dari suku ibu, dalam hal ini paman kandungnya. Hal ini dikarenakan setelah menikah nanti, si gadis akan beralih atau melepaskan sukunya mengikuti suku suaminya.[6]  Terdapat dua kali pelaksanaan ritual ini, yang pertama dilakukan di rumah besar suku pamannya dan yang kedua di rumah adat ayahnya sendiri.


1.    “Pau Ana” oleh paman kandung[7]

Pada malam yang telah ditentukan, sang paman mengundang segenap anggota sukunya dan suku-suku bersaudara lainnya serta para sahabat dan kenalannya untuk berkumpul di rumah besar suku. Menjelang saat makan bersama, sang paman akan memperlihatkan sejumlah barang pemberiannya kepada si gadis berupa sarung adat, gelang gading dan sejumlah pakaian lainnya. Biasanya disertai dengan pesanan sebagai berikut:

 

“Kame nei moe kfatek burâ ge ne kalla menisa pi pe, mette ma hopi fata go. Pe alelolo iker ra pipe, mele ma hamueka ge tobo di lurâ.”

 

(Kami berikan engkau sarung dan gelang ini untuk membeli jagung/makanan. Sedangkan pakaian yang lain ini dapat dipakai ketika menyapu halaman dan duduk di dapur pada saat memasak). 


Sesudah itu merak akan akan makan bersama sebagai rasa syukur bahwa si gadis akan segera memasuki hidup yang baru bersama suaminya. Malam itu si gadis akan bermalam di rumah besar suku ibunya bersama keluarga pamannya. Keesokan harinya, setelah sarapan, si gadis akan didandani dengan pakaian adat dan dihantar kembali ke rumah orang tuanya, sambil membawa semua barang-barang pemberian pamannya.


2.    “Pau Ana” oleh orang tua kandung[8]

Upacara ini dilakukan oleh orang tua kandung si gadis di rumah adat. Acaranya sama seperti di rumah paman. Hanya perbedaanya terletak pada jumlah pemberian, yakni pemberian orng tua biasanya lebih banyak. Pada kesempatan itu si gadis dapat pula meminta pemberian dari saudara-saudara kandungnya yang sudah berkeluarga. Hal ini terdorong oleh kesadaran bahwa kesempatan itu merupakan kesempatan terakhir bagi si gadis untuk meminta dalam status sebagai anak kepada orang tuanya, karena setelah perkawinan nanti, tanggung jawab dari si gadis bukan lagi kepada orang tua tetapi pada suami dan segenap keluarga suami.


Mengulas Ritus “Pau Ana” dari Perspektif Komunikasi

Franz-Josef Eilers mengutip Harolf Lasswell (1948) merumuskan model linear dari komunikasi dalam suatu kalimat, yang lazim disebut Formula Lasswell.[9]


Siapa

Analisis komunikator

Mengatakan apa

Analisis isi

Dengan saluran apa

Analisis media

Kepada siapa

Analisis penerima

Mengakibatkan apa

Analisis pengaruh

(Tabel Formula Lasswell)


Landasan teori di atas menjadi pedoman dalam menganalisis ritus Pau Ana seturut perspektif komunikasi. Pertama, siapa. Dalam ritus ini yang menjadi komunikator ialah paman dan orang tua dari si gadis. Komunikator dalam konteks ini berperan sebagai subyek yang memberikan pesan atau petuah. Kedua komunikator dalam ritus ini menjadi pihak yang memulai suatu komunikasi. Komunikator sebagai pihak pertama hadir untuk memberikan informasi atau pesan-pesan yang penting.


Kedua, mengatakan apa. Kedua subyek komunikator tersebut mengatakan pesan dan nasihat perihal kehidupan berkeluarga yang baru. Mereka hadir untuk memberikan penguatan dan peneguhan agar anggota keluarga yang akan berpisah senantiasa mengingat wejangan atau pesan moral dalam membangun rumah tangga.


Ketiga, dengan saluran apa, media atau saluran komunikasi dalam ritus ini ialah suara manusia dan rupa-rupa pemberian. Suara manusia menjadi medium utama dalam menyalurkan atau memberikan pesan dalam komunikasi sosial tersebut. Rupa-rupa pemberian dari paman, orang tua maupun keluarga lainnya merupakan medium yang mengandung makna dan tanda-tanda tertentu. Segala pemberian tersebut, baik makanan, sarung maupun gelang, dsb merupakan instumen atau medium teknis yang menghantar isi pesan dari ritus adat tersebut.


Keempat, kepada siapa, jelas bahwa dalam ritus Pau Ana yang menjadi penerima pesan adalah si gadis. Keberadaan penerima pesan merupakan salah satu prasyarat penting dalam suatu proses komunikasi. Penerima pesan melalui kehadirannya bertugas untuk menangkap dan mengolah pesan dari komunikator. Si gadis berperan dalam mendengarkan pesan-pesan moral yang disampaikan komunikator guna melaksanakan semuanya dalam kehidupannya selanjutnya.


Kelima, mengakibatkan apa, dalam hal ini yang dimaksudkan ialah pengaruh atau hasil yang dicapai. Setiap komunikasi pada dasarnya memiliki pengaruh atau pencapain bersama. Di samping itu komunikasi juga menghasilkan kesepakatan bersama antara kedua pihak yakni komunikator dan penerima pesan.


Selanjutnya, dalam konteks ritus Pau Ana tujuan yang ingin dicapai ialah perutusan si gadis dan pembekalan nilai-nilai moral bagi dirinya. Upacara perpisahan yang dialaminya menjadi tanda dukungan dari keluarga asalnya agar ia bisa berhasil dalam membangun keluarga yang baru. Segenap dialog/pembahasan maupun petuah selama ritus ini menghasilkan pedoman/nasihat yang memampukan si gadis untuk kehidupan selanjutnya.


Berdasarkan kajian di atas ritus Pau Ana merupakan suatu wadah komunikasi. Ritus ini menjadi sarana dalam menanamkan falsafah hidup masyarakat Lamalera. Ritus Pau Ana juga berfungsi sebagai medium perantara nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Ritus ini juga memiliki kelima aspek atau unsur komunikasi. Kelima aspek yang telah diuraikan tersebut saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan dalam upaya menciptakan komunikasi sosial yang ideal.


Penutup

Kebudayaan lokal merupakan suatu wadah/sarana dalam komunikasi sosial. Kajian terhadap budaya lokal dari sudut komunikasi menjadi salah satu hal yang patut digalakkan. Sebagaimana upaya tulisan ini mengkaji ritus Pau Ana dalam budaya masyarakat Lamalera seturut perspektif komunikasi.

 

Tulisan ini menyimpulkan bahwa ritus Pau Ana memenuhi kelima kriteria atau unsur dasariah dari komunikasi. Nilai-nilai atau kearifan lokal dalam ritus ini patut dikembangkan, teristimewa dalam menjalin hubungan kekerabatan atau keharmonisan antar penduduk desa Lamalera. Oleh karena itu, penulis mengharapkan agar generasi selanjutnya mesti merawat, menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal ini. (YB Bataona)


Baca juga:
-Online

[1] Bdk. Franz-Josef Eilers, SVD, Berkomunikasi dalam Masyarakat, penerj. Frans Obon dan Eduard Jebarus, Pr (Ende: Nusa Indah, 2001), hlm 10.

[2] Ibid., hlm, 16.

[3] Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, SH., Masyarakat Nelayan Lamalera dan Tradisi Penangkapan Ikan Paus (Bogor: Lembaga Galekat Lefo Tanah, 2001), hlm 5.

[4] Ibid., hlm. 7.

[5] Ibid., hlm. 35

[6] Ibid.

[7] Ibid., bdk., hlm 35-36.

[8] Ibid., hlm 37.

[9] Bdk. Franz-Josef Eilers, SVD, op. cit., hlm. 25.

Kajian Komunikasi Ritus Pau Ana Masyarakat Lamalera Kajian Komunikasi Ritus Pau Ana Masyarakat Lamalera Reviewed by Yose Bataona on November 18, 2020 Rating: 5

No comments

Recent Posts

Latest in Tech